''Belum hilang jejak telapak kaki orang-orang yang mengantarnya ke kubur, seorang hamba (yang telah habis usianya) akan ditanya mengenai empat hal, yaitu hal usianya ke mana dihabiskannya, hal tubuhnya untuk apa digunakannya, hal ilmunya seberapa yang diamalkannya, serta hal hartanya dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya.'' (HR Tirmidzi).
Karunia Allah yang paling berharga yang diberikan kepada manusia adalah usia. Kekayaan dan kekuatan manusia tidak berarti apa-apa jika usia sudah tiada. Menurut Ar Razi, jika hilangnya masa dipahami sebagai hilangnya modal, sedangkan modal manusia adalah usia yang dimilikinya, manusia pun selalu mengalami kerugian. Sebab, setiap saat, dari waktu ke waktu, usia yang menjadi modal utamanya terus berkurang.
Tidak diragukan lagi, jika usia itu digunakan manusia untuk bermaksiat, ia benar-benar mengalami kerugian. Bukan hanya tidak mendapatkan kompensasi apa pun dari modalnya yang hilang, namun lebih dari itu. Apa yang dilakukan dapat membahayakan dan mencelakakan dirinya. Begitu juga jika usianya dihabiskan untuk mengerjakan perkara-perkara yang mubah, ia tetap dikatakan merugi sebab usia sebagai modalnya habis tanpa meninggalkan dan menghasilkan apa pun bagi dirinya.
Untuk itu, usia haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Suatu hari, seorang murid bertanya kepada mursyidnya, ''Apa makna usia?'' Jawabannya adalah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW, ''Apabila hari ini amal pekerjaanmu masih sama dengan hari kemarin, berarti kamu merugi. Bila lebih jelek daripada kemarin, terkutuk namanya. Bila lebih bagus, barulah termasuk beruntung.Nah, apakah usiamu yang setiap saat berkurang telah digantikan oleh hal-hal yang lebih baik atau sebaliknya? Di situlah makna usiamu.''
Ada dua hal penting mengapa usia harus mendapat perhatian serius. Pertama, Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas usia yang Allah karuniakan. Kedua, usia adalah masa yang menentukan baik buruknya manusia. At Tirmidzi meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Siapa manusia terbaik?'' Beliau bersabda, ''Manusia yang usianya panjang dan dihabiskan untuk kebaikan.'' Ia bertanya lagi, ''Siapa manusia terburuk?'' Beliau bersabda, ''Manusia yang usianya panjang, namun dihabiskan untuk keburukan.'' Wallahu a'lam bish-shawab.
Oleh : Muslimmodern@gmail.com
Republika, 29 April 2008
Minggu, 21 Juni 2009
''Belum hilang jejak telapak kaki orang-orang yang mengantarnya ke kubur, seorang hamba (yang telah habis usianya) akan ditanya mengenai empat hal, yaitu hal usianya ke mana dihabiskannya, hal tubuhnya untuk apa digunakannya, hal ilmunya seberapa yang diamalkannya, serta hal hartanya dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya.'' (HR Tirmidzi).
Karunia Allah yang paling berharga yang diberikan kepada manusia adalah usia. Kekayaan dan kekuatan manusia tidak berarti apa-apa jika usia sudah tiada. Menurut Ar Razi, jika hilangnya masa dipahami sebagai hilangnya modal, sedangkan modal manusia adalah usia yang dimilikinya, manusia pun selalu mengalami kerugian. Sebab, setiap saat, dari waktu ke waktu, usia yang menjadi modal utamanya terus berkurang.
Tidak diragukan lagi, jika usia itu digunakan manusia untuk bermaksiat, ia benar-benar mengalami kerugian. Bukan hanya tidak mendapatkan kompensasi apa pun dari modalnya yang hilang, namun lebih dari itu. Apa yang dilakukan dapat membahayakan dan mencelakakan dirinya. Begitu juga jika usianya dihabiskan untuk mengerjakan perkara-perkara yang mubah, ia tetap dikatakan merugi sebab usia sebagai modalnya habis tanpa meninggalkan dan menghasilkan apa pun bagi dirinya.
Untuk itu, usia haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Suatu hari, seorang murid bertanya kepada mursyidnya, ''Apa makna usia?'' Jawabannya adalah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW, ''Apabila hari ini amal pekerjaanmu masih sama dengan hari kemarin, berarti kamu merugi. Bila lebih jelek daripada kemarin, terkutuk namanya. Bila lebih bagus, barulah termasuk beruntung.Nah, apakah usiamu yang setiap saat berkurang telah digantikan oleh hal-hal yang lebih baik atau sebaliknya? Di situlah makna usiamu.''
Ada dua hal penting mengapa usia harus mendapat perhatian serius. Pertama, Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas usia yang Allah karuniakan. Kedua, usia adalah masa yang menentukan baik buruknya manusia. At Tirmidzi meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Siapa manusia terbaik?'' Beliau bersabda, ''Manusia yang usianya panjang dan dihabiskan untuk kebaikan.'' Ia bertanya lagi, ''Siapa manusia terburuk?'' Beliau bersabda, ''Manusia yang usianya panjang, namun dihabiskan untuk keburukan.'' Wallahu a'lam bish-shawab.
Oleh : Muslimmodern@gmail.com
Republika, 29 April 2008
Karunia Allah yang paling berharga yang diberikan kepada manusia adalah usia. Kekayaan dan kekuatan manusia tidak berarti apa-apa jika usia sudah tiada. Menurut Ar Razi, jika hilangnya masa dipahami sebagai hilangnya modal, sedangkan modal manusia adalah usia yang dimilikinya, manusia pun selalu mengalami kerugian. Sebab, setiap saat, dari waktu ke waktu, usia yang menjadi modal utamanya terus berkurang.
Tidak diragukan lagi, jika usia itu digunakan manusia untuk bermaksiat, ia benar-benar mengalami kerugian. Bukan hanya tidak mendapatkan kompensasi apa pun dari modalnya yang hilang, namun lebih dari itu. Apa yang dilakukan dapat membahayakan dan mencelakakan dirinya. Begitu juga jika usianya dihabiskan untuk mengerjakan perkara-perkara yang mubah, ia tetap dikatakan merugi sebab usia sebagai modalnya habis tanpa meninggalkan dan menghasilkan apa pun bagi dirinya.
Untuk itu, usia haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Suatu hari, seorang murid bertanya kepada mursyidnya, ''Apa makna usia?'' Jawabannya adalah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW, ''Apabila hari ini amal pekerjaanmu masih sama dengan hari kemarin, berarti kamu merugi. Bila lebih jelek daripada kemarin, terkutuk namanya. Bila lebih bagus, barulah termasuk beruntung.Nah, apakah usiamu yang setiap saat berkurang telah digantikan oleh hal-hal yang lebih baik atau sebaliknya? Di situlah makna usiamu.''
Ada dua hal penting mengapa usia harus mendapat perhatian serius. Pertama, Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas usia yang Allah karuniakan. Kedua, usia adalah masa yang menentukan baik buruknya manusia. At Tirmidzi meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Siapa manusia terbaik?'' Beliau bersabda, ''Manusia yang usianya panjang dan dihabiskan untuk kebaikan.'' Ia bertanya lagi, ''Siapa manusia terburuk?'' Beliau bersabda, ''Manusia yang usianya panjang, namun dihabiskan untuk keburukan.'' Wallahu a'lam bish-shawab.
Oleh : Muslimmodern@gmail.com
Republika, 29 April 2008
Ayah vs Duit
Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang
keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?"
"Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja." "Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?"
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya.
"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?"
"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah."
"Tapi, Ayah..." Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun
berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil
memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan
bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih." "Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku
kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."
"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut. "Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp
40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau
pinjam dari Ayah," kata Imron polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.
Saya tidak tahu apakah kisah di atas fiktif atau kisah nyata. Tapi saya tahu kebanyakan anak-anak orang kantoran maupun wirausahawan saat ini memang merindukan saat-saat bercengkerama dengan orang tua mereka. Saat dimana mereka tidak merasa "disingkirkan" dan diserahkan kepada suster, pembantu atau sopir. Mereka tidak butuh uang yang lebih banyak. Mereka ingin lebih dari itu. Mereka ingin merasakan sentuhan kasih-sayang Ayah dan Ibunya. Apakah hal ini berlebihan? Sebagian besar wanita karier yang nampaknya menikmati emansipasi-nya, diam-diam menangis dalam hati ketika anak-anak mereka lebih dekat dengan suster, supir, dan pembantu daripada ibu kandung mereka sendiri. Seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer sebuah bank swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang sakit demam tinggi tak mau dipeluk ibunya,
tetapi berteriak-teriak memanggil nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran.
"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang
keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?"
"Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja." "Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?"
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya.
"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?"
"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah."
"Tapi, Ayah..." Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun
berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil
memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan
bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih." "Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku
kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."
"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut. "Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp
40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau
pinjam dari Ayah," kata Imron polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.
Saya tidak tahu apakah kisah di atas fiktif atau kisah nyata. Tapi saya tahu kebanyakan anak-anak orang kantoran maupun wirausahawan saat ini memang merindukan saat-saat bercengkerama dengan orang tua mereka. Saat dimana mereka tidak merasa "disingkirkan" dan diserahkan kepada suster, pembantu atau sopir. Mereka tidak butuh uang yang lebih banyak. Mereka ingin lebih dari itu. Mereka ingin merasakan sentuhan kasih-sayang Ayah dan Ibunya. Apakah hal ini berlebihan? Sebagian besar wanita karier yang nampaknya menikmati emansipasi-nya, diam-diam menangis dalam hati ketika anak-anak mereka lebih dekat dengan suster, supir, dan pembantu daripada ibu kandung mereka sendiri. Seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer sebuah bank swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang sakit demam tinggi tak mau dipeluk ibunya,
tetapi berteriak-teriak memanggil nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran.
Manajemen semangat
Manajemen semangat (Bagian I)
oleh : Dudung Abdul Ghany
Wajar sekali seseorang mengalami penurunan semangat, semangat belajar, semangat bekerja, semangat berlatih, semangat mendidik, semangat mengajar sampai semangat memperbaiki diri. Akan tidak wajar bila penurunan semangat ini terjadi terus menerus dalam waktu yang cukup panjang dan tidak dirasakan olehnya penurunan semangat ini bahkan terlena dan merasa nyaman dengan penurunan semangat ini. Padahal semangat adalah kunci dari keberhasilan dalam melakukan segala sesuatu. Hilang saja semangat dalam diri sudah bisa dipastikan sangat sulit meraih harapan yang diidam-idamkan.
Semangat ini sesuatu yang penting bagi kehidupan kita, karena dengan semangat akan menimbulkan motivasi tinggi untuk melakukan sesuatu dengan baik. Makanya semangat ini harus dimanaj, jangan sampai merusak kehhidupan kita. Kebalikan dari semangat adalah malas. Bila malas sudah merasuk dalam tubuh dan sendi kehidupan kita maka akan susah sekali membangkitkan kekuatan diri untuk meraih yang terbaik. Tapi ingatlah bahwa malas itu bisa kita lawan.
Ciri-ciri semangat sedang surut
Ciri-ciri orang yang sedang dilanda penurunan atau surut semangat diantaranya pertama, sangat susah tersenyum. Coba kita perhatikan diri kita ketika hati berbunga-bunga penuh semangat akan mudah seklai menyugingkan senyuman kepada siapa saja, tentunya dengan senyuman yan gmenawan penuh ketulusan, bukan senyuman yang menyakitkan, senyumannya penuh kesegaran. Beda ketika seseorang sedang mengalami penurunan semangat, bibirnya akan terpenjara, sangat sulit mengeluarkan senyuman, malas untuk melempar senyum kepada siapa saja. Bisa senyum tapi senyumnya senyum kosong tiada arti dan makna bahkan cenderung senyum sinis.
Kedua, Hidupnya tidak terrencana dan terarah dengan baik. Sudah menjadi kewajaran bila seseorang yang sedang mengalami penurunan semangat hidupnya akan berjalan begitu saja, tidak menghiraukan detik demi detik berjalan, perasaannya tidak menentu karena tidak mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu. Jadi bisa dikategorikan orang yang sehari-harinya nganggur, bengong di sisi jalan sambil nyanyi-nyanyi tak punya pekerjaan, mengganggu orang, hidupnya hanya tergantung kepada orangtua adalah termasuk ornag yang kehilangan semangat. Dari bangun pagi sampai tidur kembali dia menjalani hari-harinya tidak menghasilkan apa-apa baik untuk hati, intelektualnya maupun untuk fisiknya, pokoknya orang yang tidak mepunyai perencanaan dalam aktivitas hariannya berarti sedang tidak ada semangat.
Ketiga, Mudah tersinggung. Kita pernah merasakan bagaiaman hati ini mudah tersinggung, walaupun dengan hal yang sepele misalnya hanya gara-gara tangisan si kecil kita jadi marah kepada istri atau hanya gara-gara suara cecak kita langsung menggumal “ Dasar cecak tak tahu diri, saya mau istirahat niih, bisa ngak berhenti, dasar ciciak tak punya perasaan,” begitu kaat-kaat yang keluar dari seseorang yang mudah tersinggung akibat kehilangan semangat. Hal yang kecil akan menjadi besar bhakan bisa jadi dijadikan alasan untuk terus terlenan ke dalam kemalasan. Atau misalnya seorang pimpinan di sebuah kantor karena sedang tidak ada semangat membaca laporan karyawan sepintas lalu dan dalam benaknya tidak ada yang beres sehingga dia marah sam abawahannya. Padahal kalau lagi semangat laporan tersebut sanagt baik, begitulah orang yang sedang dilanda penurunan semangat akan mudah menilai jelek orang lain.
Manajemen Semangat (Bagian II)
Pertama, Buatlah tulisan degan huruf besar dan mudah terbaca hanya sedikit menoleh, dan simpanlah di tempat strategis di sekeliling anda supaya anda setiap harinya dapat membaca tulisan tersebut. Isi dari tulisan ini adalah komitmen diri untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Contohnya :
Aku hidup di dunia hanya sebentar, aku tidak akan menyia-nyiakan hidup yang singkat ini dengan hidup sia-sia. Setiap detiknya harus menjadi ilmu dan amal. Aku tidak akan kelamkan hidupku dengan kemalasan. Tunggulah wahai kesuksesan aku akan menjemputmu.
Atau misalnya dengan pernyataan cita-cita anda 60 tahun kemudian disaat kita semua sedang menghadapi masa-masa keemasan menjelang ajal. Ingatlah bahwa hidup tanpa cita-cita laksana hidup tanpa gairah. Artinya bahwa hidupnya tidak akan terarah dan mudah untuk putus asa. Beda dengan orang yang mempunyai cita-cita dan sudah terinternalisasikan dalam dirinya, dia akan berusaha sekuat tenaga mencurahkan segalanya untuk mencapai cita-cita tersebut. Bila di tengah jalan mengalami hambatan dia akan terus berdiri lagi menegakan keyakinannya untuk meraih cita-cita. Semakin banyak hambatan maka akan semakin bergairah dia untuk melawannya.
Berikut ini contoh pernyataan cita-cita dimasa depan anda semoga anda bisa menulisnya sesuai dengan harapan dalam benak anda, ingatlah semakin sering kita mengingat dan menyebut tujuan hidup kita maka kita akan semakin tercerahkan untuk bersemangat menjalani hidup ini.
Masa keemasan saya akan dicapai ketika saya mengoptimalkan segala potensi dalam diriku. Aku mohon kepadaMu ya Allah Yang Maha Kuasa jadikan diriku seorang Dokter spesialis Anak yang menjadi kebanggaan anak dan cucuku karena tak terhingganya pertolongan ilmu kedokteranku untuk anak-anak indonesia sebagai generasi harapan bangsa.
Baik sekali seandainya tulisan ini dibingkai dengan figura yang indah dan besar dan disimpannya di tempat paling mudah untuk dibaca, jangan kalah dengan pesawat televisi yang dimana-mana disimpan di ruang utama, jarang sekali orang yang menghiasi ruangan utamanya dengan pernyataan visi hidupnya. Cobalah oleh anda geser posisi televisi dengan tulisan tersebut. Saya yakin anda, istri, anak dan tamu anda akan bersemangat melakukan yang terbaik dalam hidup ini.
Kedua, Carilah pasangan yang bisa menjadi sahabat sejati. Dia akan menjadi teman yang mengingatkan dikala kita lupa dan akan menjadi teman yang memberikan motivasi dikala semangat bergelora. Bagi yang sudah menikah berbahagialah karena istri atau suami akan mejadi sahabat sejati, jadikan dia sebagai parter dalam menjalankan visi dan misi hidup.
Kita harus senang dikala pasangan kita mengingatkan untuk shalat tahajud atau mengajak pergi ke majlis ilmu. Sebaliknya kita harus sedih sesedih-sedihnya jikalau pasangan kita terasa tak acuh dengan kondisi kita baik kondisi lahiriah maupun kondisi bathiniah. Yang jelas menikah itu adalah sesuatu yang indah yang bisa kita perindah lagi dengan sinergi, menjungjung tinggi kebersamaan dalam meraih cita-cita hidup. Alangkah baiknya bila diantara anda dengan pasangan hidup anda buat komitmen bersama dan tertulis seperti diatas agar semua anggota keluarga tahu visi keluarga kita.
Kami menikah adalah ibadah. Sekecil apapun yang kami perbuat harus dan pasti menjadi amal. Maka dari itu ketulusan adalah kunci segalanya. Jikalau Saya sebagai suami lalai maka istriku wajib memperingatkannya. Dan jikalau saya sebagai istri lalai maka suamiku wajib memperingatkannya. Kami bersama dan bersatu untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah.
Demikian contoh pernyataan antara suami dan istri, semoga bisa menjadi insfirasi bagi anda semua. Ini adalah cara agar semangat kita tetap terjaga. Minimal ketika keluarga kita sedang mengalami penurunan semangat bekerja bisa menjadi obat. Kalau bisa pernyataan ini disimpan di tempat yang strategis, jangan kalah dengan foster bintang film yang ditempatkan dikamar utama. Ganti saja tuh gambar-gambar yang sia-sia dengan foster motivasi bagi keluarga kita.
Insyaallah kalau sudah ada kesepakatan kedua pasangan akan terjalin hubungan yang sehat dan membangun. Sebesar apapun masalahnya akan mudah menyelesaikannya. Karena satu sama lain menyadari bahwa keluarga itu adalah sebuah gabungan potensi yang harus saling mengisi.
Jikalu anda masih bujangan alias masih sendiri. Carilah teman yang kira-kira bisa diajak berteman dan bersinergi bisa teman sekelas, teman sekampus, teman sekerja atau teman semesjid. Saya percaya semuanya akan menemukan teman yang cocok. Indah sekali persahabatan bila dibumbui dengan saling mengingatkan dan saling menasehati. Jikalau kita sedang sedih dia bisa menghibur dan jikalau kita sedang gembira dia akan mengingatkan supaya kegembiraannya tidak lupa diri.
Saya teringat nasehat seorang ulama Fudhail bin Iyadh terhadap seorang penghafal al-Quran “Penghafal Al-quran adalah pembawa bendera islam, maka tidak layak ia masih main bersama dengan orang yangmain-main, tidak lupa bersama orang-orang yang lupa, dan tidak sia-sia bersama orang yang sia-sia karena mengagungkan haq Alquran”.
Walapun anda bukan penghafal Al-quran tapi saya yakin kita pernah hafal AL-quran walau hanya sedikit, yaaa minimal al-Fatihah karena memang wajib hafal sebagai syarat sah shalat. Nasihat ini sebenarnya diperuntukan bagi siapa saja yang ingin mempunyai kualitas hidup yang lebih baik maka harus pandai memilih teman dan lingkungan jangan sampai lingkungan itu bisa merusak diri kita. Seperti dalam nasihat ini dikatakan tidak layak bagi penghafal Al-quran main dengan orang yang main-main, artinya bila kita ingin termasuk orang yang sukses maka bergaulah dengan orang yang sukses atau berusaha meraih sukses.
Carilah teman yang dinilai dapat saling membangun, buatlah kesepakatan bersama untuk saling menasehati dan mengingatkan agar ketika berjalan tidak terjadi kesalahfahaman. Insyaallah sepahit apapun nasehatnya akan diterima dengan baik karena sudah komitmen satu sama lain
Ketiga, Berenung sejenak. Adakalanya manusia menemui kejenuhan baik kejenuhan fisik maupun kejenuhan fikiran. Bila hal ini terjadi anda harus merelakan waktu anda sejenak untuk merenungkan apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Dengan sedikit waktu saja cukup untuk menyegarkan fisik dan fikiran kita. Dan tentunya semangat berkarya akan terus bergelora dalam jiwa kita.
Ada waktu-waktu yang baik untuk merenung. Kita sebagai muslim sudah diberikan waktu setiap hari 5 waktu shalat. Sebenarnya kalau kita bisa menggunakan dengan efektif setelah melaksanakan shalat wajib kita bisa sedikit merenung kegiatan kita sebelumnya. Makanya Rosulullah Saw menganjurkan untuk berdoa dan berzikir setelah shalat wajib. Kalau diperhatikan waktu shalat itu sudah diatur dengan tingkat kepenatan tubuh kita. Maka mulailah memanfaatkan waktu setelah shalat wajib untuk menintrosfeksi dalam renungan yang positif.
Coba juga diselang waktu kerja atau belajar setiap dua jam untuk menarik nafas cukup 5 menit dengan konsentrasi terfokus pada nafas kita. Keluarkan unek-unekdan masalah ketika nafas sedang keluar dari rongga mulut. Ini harus dilakukan dengan konsentrasi agar hasilnyapun optimal. Untuk masalah tempat bisa dilakukan dimana saja yang paling enak dan nyaman dilakukan di ruangan yang sepi tidak ada hiruk-pikuk, sambil bersandar di kursi kerja. Kepalkan tangan kita sambil berucap aku semangat, aku semangat sampai terasa tubuh, fikiran dan hati kita bersatu untuk mengucapkan kata semangat tersebut.
Kalau anda ingin lebih terencana dan tersistematis lagi ada waktu yang sangat indah dan kondusif adalah waktu tengah malam disaat shalat tahajud. Disitu akan terasa atsmosfir ruhiyah. Apalagi dilakukan secara khusu’ dan persiapan yang baik. Tahajud ini akan menjadi buaian manusia dengan tuhannya.
Keempat, membaca buku kesuksesan para tokoh. Luar biasa hasilnya bila diri kita diup-grade terus dengan bacaan-bacaan orang-orang sukses. Biasanya buku jenis ini adalah biografi atau autobiografi. Agar kita tidak malas membacanya coba anda tulis juga inti dari motto orang-orang yang sukses tadi. Sempatkan untuk membaca secara utuh buku tersebut, tulislah pokok-pokok pemikirannya, tuangkan dalam buku saku yang mudah dibawa dan dibaca dan kalau memungkinkan tulis dalam sebuah foster. Insyaallah setiap kita menurun semangat tapi dengan melihat dan membaca motto terssebut semangatnya akan terus bergelora.
Ingatlah wahai sahabat, bahwa hidup ini butuh bimbingan agar proses kita terarah. Maka perbanyaklah kenalan dengan orang-orang yang berpengalaman dalam mengarungi hidup ini. Temukanlah orang-orang yang bisa menasehati kita, jangan sungkan untuk dijadikan guru. Karena merekalah yang akan tahu secara objektif apakah kita sudah benar dalam mengarungi hidup ini.
Kelima, Berserilah selalu. Ingatlah bahwa kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang tentunya sangat berpengaruh segala sikap dan tindakan kita bagi orang lain. Demikian pula jikalau sikap kita menyenangkan maka kita akan menjadi penyejuk dan motivator bagi yang lainnya. Tapi sebaliknya apabila sikap dan tindakan kita tidak terpuji maka disamping merugikan diri sendiri juga akan merugikan bagi semua orang. Apalagi anda seorang pimpinan atau manajer.
Seorang pemimpin harus pandai memanaj semangat ini.Karena akan mudah berpengaruh terhadap anggota timnya. Walaupun ketika semangat kita pudar kita harus berusaha kita tidak kelihatan sedang mengalami penurunan semangat. Tetaplah jaga sikap kita dengan berseri minimal tersenyum. Sedikit saja anda terlihat murung maka seluruh karyawan akan murung. Senyum itu hanya urusan mulut tapi kalau berseri sudah berurusan dengan kondisi hati kita. Kalau jiwanya sedang berseri maka senyumnyapun akan renyah menjadi sodaqoh. Tapi kalau jiwa kita gundah gulana, tersenyumnyapun akan menjadi masalah. Mari kita berseri untuk inspirasi meraih karya yang terbaik
Semoga uraian ini bermanfaat bagi kita semua dan menjadikan hidup kita semakin indah dan penuh dengan harumnya karya yang terbaik. Allaahu a’lam bissowaab.
oleh : Dudung Abdul Ghany
Wajar sekali seseorang mengalami penurunan semangat, semangat belajar, semangat bekerja, semangat berlatih, semangat mendidik, semangat mengajar sampai semangat memperbaiki diri. Akan tidak wajar bila penurunan semangat ini terjadi terus menerus dalam waktu yang cukup panjang dan tidak dirasakan olehnya penurunan semangat ini bahkan terlena dan merasa nyaman dengan penurunan semangat ini. Padahal semangat adalah kunci dari keberhasilan dalam melakukan segala sesuatu. Hilang saja semangat dalam diri sudah bisa dipastikan sangat sulit meraih harapan yang diidam-idamkan.
Semangat ini sesuatu yang penting bagi kehidupan kita, karena dengan semangat akan menimbulkan motivasi tinggi untuk melakukan sesuatu dengan baik. Makanya semangat ini harus dimanaj, jangan sampai merusak kehhidupan kita. Kebalikan dari semangat adalah malas. Bila malas sudah merasuk dalam tubuh dan sendi kehidupan kita maka akan susah sekali membangkitkan kekuatan diri untuk meraih yang terbaik. Tapi ingatlah bahwa malas itu bisa kita lawan.
Ciri-ciri semangat sedang surut
Ciri-ciri orang yang sedang dilanda penurunan atau surut semangat diantaranya pertama, sangat susah tersenyum. Coba kita perhatikan diri kita ketika hati berbunga-bunga penuh semangat akan mudah seklai menyugingkan senyuman kepada siapa saja, tentunya dengan senyuman yan gmenawan penuh ketulusan, bukan senyuman yang menyakitkan, senyumannya penuh kesegaran. Beda ketika seseorang sedang mengalami penurunan semangat, bibirnya akan terpenjara, sangat sulit mengeluarkan senyuman, malas untuk melempar senyum kepada siapa saja. Bisa senyum tapi senyumnya senyum kosong tiada arti dan makna bahkan cenderung senyum sinis.
Kedua, Hidupnya tidak terrencana dan terarah dengan baik. Sudah menjadi kewajaran bila seseorang yang sedang mengalami penurunan semangat hidupnya akan berjalan begitu saja, tidak menghiraukan detik demi detik berjalan, perasaannya tidak menentu karena tidak mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu. Jadi bisa dikategorikan orang yang sehari-harinya nganggur, bengong di sisi jalan sambil nyanyi-nyanyi tak punya pekerjaan, mengganggu orang, hidupnya hanya tergantung kepada orangtua adalah termasuk ornag yang kehilangan semangat. Dari bangun pagi sampai tidur kembali dia menjalani hari-harinya tidak menghasilkan apa-apa baik untuk hati, intelektualnya maupun untuk fisiknya, pokoknya orang yang tidak mepunyai perencanaan dalam aktivitas hariannya berarti sedang tidak ada semangat.
Ketiga, Mudah tersinggung. Kita pernah merasakan bagaiaman hati ini mudah tersinggung, walaupun dengan hal yang sepele misalnya hanya gara-gara tangisan si kecil kita jadi marah kepada istri atau hanya gara-gara suara cecak kita langsung menggumal “ Dasar cecak tak tahu diri, saya mau istirahat niih, bisa ngak berhenti, dasar ciciak tak punya perasaan,” begitu kaat-kaat yang keluar dari seseorang yang mudah tersinggung akibat kehilangan semangat. Hal yang kecil akan menjadi besar bhakan bisa jadi dijadikan alasan untuk terus terlenan ke dalam kemalasan. Atau misalnya seorang pimpinan di sebuah kantor karena sedang tidak ada semangat membaca laporan karyawan sepintas lalu dan dalam benaknya tidak ada yang beres sehingga dia marah sam abawahannya. Padahal kalau lagi semangat laporan tersebut sanagt baik, begitulah orang yang sedang dilanda penurunan semangat akan mudah menilai jelek orang lain.
Manajemen Semangat (Bagian II)
Pertama, Buatlah tulisan degan huruf besar dan mudah terbaca hanya sedikit menoleh, dan simpanlah di tempat strategis di sekeliling anda supaya anda setiap harinya dapat membaca tulisan tersebut. Isi dari tulisan ini adalah komitmen diri untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Contohnya :
Aku hidup di dunia hanya sebentar, aku tidak akan menyia-nyiakan hidup yang singkat ini dengan hidup sia-sia. Setiap detiknya harus menjadi ilmu dan amal. Aku tidak akan kelamkan hidupku dengan kemalasan. Tunggulah wahai kesuksesan aku akan menjemputmu.
Atau misalnya dengan pernyataan cita-cita anda 60 tahun kemudian disaat kita semua sedang menghadapi masa-masa keemasan menjelang ajal. Ingatlah bahwa hidup tanpa cita-cita laksana hidup tanpa gairah. Artinya bahwa hidupnya tidak akan terarah dan mudah untuk putus asa. Beda dengan orang yang mempunyai cita-cita dan sudah terinternalisasikan dalam dirinya, dia akan berusaha sekuat tenaga mencurahkan segalanya untuk mencapai cita-cita tersebut. Bila di tengah jalan mengalami hambatan dia akan terus berdiri lagi menegakan keyakinannya untuk meraih cita-cita. Semakin banyak hambatan maka akan semakin bergairah dia untuk melawannya.
Berikut ini contoh pernyataan cita-cita dimasa depan anda semoga anda bisa menulisnya sesuai dengan harapan dalam benak anda, ingatlah semakin sering kita mengingat dan menyebut tujuan hidup kita maka kita akan semakin tercerahkan untuk bersemangat menjalani hidup ini.
Masa keemasan saya akan dicapai ketika saya mengoptimalkan segala potensi dalam diriku. Aku mohon kepadaMu ya Allah Yang Maha Kuasa jadikan diriku seorang Dokter spesialis Anak yang menjadi kebanggaan anak dan cucuku karena tak terhingganya pertolongan ilmu kedokteranku untuk anak-anak indonesia sebagai generasi harapan bangsa.
Baik sekali seandainya tulisan ini dibingkai dengan figura yang indah dan besar dan disimpannya di tempat paling mudah untuk dibaca, jangan kalah dengan pesawat televisi yang dimana-mana disimpan di ruang utama, jarang sekali orang yang menghiasi ruangan utamanya dengan pernyataan visi hidupnya. Cobalah oleh anda geser posisi televisi dengan tulisan tersebut. Saya yakin anda, istri, anak dan tamu anda akan bersemangat melakukan yang terbaik dalam hidup ini.
Kedua, Carilah pasangan yang bisa menjadi sahabat sejati. Dia akan menjadi teman yang mengingatkan dikala kita lupa dan akan menjadi teman yang memberikan motivasi dikala semangat bergelora. Bagi yang sudah menikah berbahagialah karena istri atau suami akan mejadi sahabat sejati, jadikan dia sebagai parter dalam menjalankan visi dan misi hidup.
Kita harus senang dikala pasangan kita mengingatkan untuk shalat tahajud atau mengajak pergi ke majlis ilmu. Sebaliknya kita harus sedih sesedih-sedihnya jikalau pasangan kita terasa tak acuh dengan kondisi kita baik kondisi lahiriah maupun kondisi bathiniah. Yang jelas menikah itu adalah sesuatu yang indah yang bisa kita perindah lagi dengan sinergi, menjungjung tinggi kebersamaan dalam meraih cita-cita hidup. Alangkah baiknya bila diantara anda dengan pasangan hidup anda buat komitmen bersama dan tertulis seperti diatas agar semua anggota keluarga tahu visi keluarga kita.
Kami menikah adalah ibadah. Sekecil apapun yang kami perbuat harus dan pasti menjadi amal. Maka dari itu ketulusan adalah kunci segalanya. Jikalau Saya sebagai suami lalai maka istriku wajib memperingatkannya. Dan jikalau saya sebagai istri lalai maka suamiku wajib memperingatkannya. Kami bersama dan bersatu untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah.
Demikian contoh pernyataan antara suami dan istri, semoga bisa menjadi insfirasi bagi anda semua. Ini adalah cara agar semangat kita tetap terjaga. Minimal ketika keluarga kita sedang mengalami penurunan semangat bekerja bisa menjadi obat. Kalau bisa pernyataan ini disimpan di tempat yang strategis, jangan kalah dengan foster bintang film yang ditempatkan dikamar utama. Ganti saja tuh gambar-gambar yang sia-sia dengan foster motivasi bagi keluarga kita.
Insyaallah kalau sudah ada kesepakatan kedua pasangan akan terjalin hubungan yang sehat dan membangun. Sebesar apapun masalahnya akan mudah menyelesaikannya. Karena satu sama lain menyadari bahwa keluarga itu adalah sebuah gabungan potensi yang harus saling mengisi.
Jikalu anda masih bujangan alias masih sendiri. Carilah teman yang kira-kira bisa diajak berteman dan bersinergi bisa teman sekelas, teman sekampus, teman sekerja atau teman semesjid. Saya percaya semuanya akan menemukan teman yang cocok. Indah sekali persahabatan bila dibumbui dengan saling mengingatkan dan saling menasehati. Jikalau kita sedang sedih dia bisa menghibur dan jikalau kita sedang gembira dia akan mengingatkan supaya kegembiraannya tidak lupa diri.
Saya teringat nasehat seorang ulama Fudhail bin Iyadh terhadap seorang penghafal al-Quran “Penghafal Al-quran adalah pembawa bendera islam, maka tidak layak ia masih main bersama dengan orang yangmain-main, tidak lupa bersama orang-orang yang lupa, dan tidak sia-sia bersama orang yang sia-sia karena mengagungkan haq Alquran”.
Walapun anda bukan penghafal Al-quran tapi saya yakin kita pernah hafal AL-quran walau hanya sedikit, yaaa minimal al-Fatihah karena memang wajib hafal sebagai syarat sah shalat. Nasihat ini sebenarnya diperuntukan bagi siapa saja yang ingin mempunyai kualitas hidup yang lebih baik maka harus pandai memilih teman dan lingkungan jangan sampai lingkungan itu bisa merusak diri kita. Seperti dalam nasihat ini dikatakan tidak layak bagi penghafal Al-quran main dengan orang yang main-main, artinya bila kita ingin termasuk orang yang sukses maka bergaulah dengan orang yang sukses atau berusaha meraih sukses.
Carilah teman yang dinilai dapat saling membangun, buatlah kesepakatan bersama untuk saling menasehati dan mengingatkan agar ketika berjalan tidak terjadi kesalahfahaman. Insyaallah sepahit apapun nasehatnya akan diterima dengan baik karena sudah komitmen satu sama lain
Ketiga, Berenung sejenak. Adakalanya manusia menemui kejenuhan baik kejenuhan fisik maupun kejenuhan fikiran. Bila hal ini terjadi anda harus merelakan waktu anda sejenak untuk merenungkan apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Dengan sedikit waktu saja cukup untuk menyegarkan fisik dan fikiran kita. Dan tentunya semangat berkarya akan terus bergelora dalam jiwa kita.
Ada waktu-waktu yang baik untuk merenung. Kita sebagai muslim sudah diberikan waktu setiap hari 5 waktu shalat. Sebenarnya kalau kita bisa menggunakan dengan efektif setelah melaksanakan shalat wajib kita bisa sedikit merenung kegiatan kita sebelumnya. Makanya Rosulullah Saw menganjurkan untuk berdoa dan berzikir setelah shalat wajib. Kalau diperhatikan waktu shalat itu sudah diatur dengan tingkat kepenatan tubuh kita. Maka mulailah memanfaatkan waktu setelah shalat wajib untuk menintrosfeksi dalam renungan yang positif.
Coba juga diselang waktu kerja atau belajar setiap dua jam untuk menarik nafas cukup 5 menit dengan konsentrasi terfokus pada nafas kita. Keluarkan unek-unekdan masalah ketika nafas sedang keluar dari rongga mulut. Ini harus dilakukan dengan konsentrasi agar hasilnyapun optimal. Untuk masalah tempat bisa dilakukan dimana saja yang paling enak dan nyaman dilakukan di ruangan yang sepi tidak ada hiruk-pikuk, sambil bersandar di kursi kerja. Kepalkan tangan kita sambil berucap aku semangat, aku semangat sampai terasa tubuh, fikiran dan hati kita bersatu untuk mengucapkan kata semangat tersebut.
Kalau anda ingin lebih terencana dan tersistematis lagi ada waktu yang sangat indah dan kondusif adalah waktu tengah malam disaat shalat tahajud. Disitu akan terasa atsmosfir ruhiyah. Apalagi dilakukan secara khusu’ dan persiapan yang baik. Tahajud ini akan menjadi buaian manusia dengan tuhannya.
Keempat, membaca buku kesuksesan para tokoh. Luar biasa hasilnya bila diri kita diup-grade terus dengan bacaan-bacaan orang-orang sukses. Biasanya buku jenis ini adalah biografi atau autobiografi. Agar kita tidak malas membacanya coba anda tulis juga inti dari motto orang-orang yang sukses tadi. Sempatkan untuk membaca secara utuh buku tersebut, tulislah pokok-pokok pemikirannya, tuangkan dalam buku saku yang mudah dibawa dan dibaca dan kalau memungkinkan tulis dalam sebuah foster. Insyaallah setiap kita menurun semangat tapi dengan melihat dan membaca motto terssebut semangatnya akan terus bergelora.
Ingatlah wahai sahabat, bahwa hidup ini butuh bimbingan agar proses kita terarah. Maka perbanyaklah kenalan dengan orang-orang yang berpengalaman dalam mengarungi hidup ini. Temukanlah orang-orang yang bisa menasehati kita, jangan sungkan untuk dijadikan guru. Karena merekalah yang akan tahu secara objektif apakah kita sudah benar dalam mengarungi hidup ini.
Kelima, Berserilah selalu. Ingatlah bahwa kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang tentunya sangat berpengaruh segala sikap dan tindakan kita bagi orang lain. Demikian pula jikalau sikap kita menyenangkan maka kita akan menjadi penyejuk dan motivator bagi yang lainnya. Tapi sebaliknya apabila sikap dan tindakan kita tidak terpuji maka disamping merugikan diri sendiri juga akan merugikan bagi semua orang. Apalagi anda seorang pimpinan atau manajer.
Seorang pemimpin harus pandai memanaj semangat ini.Karena akan mudah berpengaruh terhadap anggota timnya. Walaupun ketika semangat kita pudar kita harus berusaha kita tidak kelihatan sedang mengalami penurunan semangat. Tetaplah jaga sikap kita dengan berseri minimal tersenyum. Sedikit saja anda terlihat murung maka seluruh karyawan akan murung. Senyum itu hanya urusan mulut tapi kalau berseri sudah berurusan dengan kondisi hati kita. Kalau jiwanya sedang berseri maka senyumnyapun akan renyah menjadi sodaqoh. Tapi kalau jiwa kita gundah gulana, tersenyumnyapun akan menjadi masalah. Mari kita berseri untuk inspirasi meraih karya yang terbaik
Semoga uraian ini bermanfaat bagi kita semua dan menjadikan hidup kita semakin indah dan penuh dengan harumnya karya yang terbaik. Allaahu a’lam bissowaab.
Jumat, 19 Juni 2009
Makna Islam Sebagai Rahmat Bagi Alam Semesta
Memahami Rahmat Islam
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS 21: 107). Ayat di atas sering dijadikan hujjah bahwa Islam adalah agama rahmat. Itu benar. Rahmat Islam itu luas, seluas dan seluwes ajaran Islam itu sendiri. Itu pun juga pemahaman yang benar.
Sebagian orang secara sengaja (karena ada maksud buruk) ataupun tidak sengaja (karena pemahaman Islamnya yang tidak dalam), sering memaknai ayat tersebut diatas secara menyimpang. Mereka ini mengartikan rahmat Islam harus tercermin dalam suasana sosial yang sejuk, damai dan toleransi dimana saja Islam berada, apalagi sebagai mayoritas. Sementara dibaliknya sebenarnya ada tujuan lain atau kebodohan lain yang justru bertentangan dengan Islam itu sendiri, misalnya memboleh-bolehkan ucapan natal dari seorang Muslim terhadap umat Nasrani atau bersifat permisive terhadap ajaran sesat yang tetap mengaku Islam.
Islam sebagai rahmat bagi alam semesta adalah tujuan bukan proses. Artinya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta bisa jadi umat Islam harus melalui beberapa ujian, kesulitan atau peperangan seperti di zaman Rasulullah. Walau tidak selalu harus melalui langkah sulit apalagi perang, namun sejarah manapun selalu mengatakan kedamaian dan kesejukan selalu didapatkan dengan perjuangan. Misalnya, untuk menjadikan sebuah kota menjadi aman diperlukan kerjakeras polisi dan aparat hukum untuk memberi pelajaran bagi pelanggar hukum. Jadi logikanya, agar tercipta kesejukan, kedamaian dan toleransi yang baik maka hukum Islam harus diupayakan dapat dijalankan secara kaffah. Sebaliknya, jangan dikatakan bahwa umat Islam harus bersifat sejuk, damai dan toleransi kepada pelanggar hukum dengan alasan Islam adalah agama rahmat.
Mencari Rahmat Islam
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya. Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu,” (QS al-Baqarah: 208)
Ada banyak dimensi dari universalitas ajaran Islam. Di antaranya adalah, dimensi rahmat. Rahmat Allah yang bernama Islam meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia. Allah telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh manusia agar mereka mengambil petunjuk Allah. Dan tidak akan mendapatkan petunjuk-Nya, kecuali mereka yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS al-‘Ankabuut: 69).
Bentuk-bentuk Rahmat Islam
Ketika seseorang telah mendapat petunjuk Allah, maka ia benar-benar mendapat rahmat dengan arti yang seluas-luasnya. Dalam tataran praktis, ia mempunyai banyak bentuk.
Pertama, manhaj (ajaran).
Di antara rahmat Allah yang luas adalah manhaj atau ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw berupa manhaj yang menjawab kebahagiaan seluruh umat manusia, jauh dari kesusahan dan menuntunnya ke puncak kesempurnaan yang hakiki. Allah SWT berfirman, “Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),” (QS. Thahaa: 2-3). Di ayat lain, Dia berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…,” (QS Al-Maidah: 3).
Kedua, al-Qur'an.
Al-Qur'an telah meletakkan dasar-dasar atau pokok-pokok ajaran yang abadi dan permanen bagi kehidupan manusia yang selalu dinamis. Kitab suci terakhir ini memberikan kesempatan bagi manusia untuk beristimbath (mengambil kesimpulan) terhadap hukum-hukum yang bersifat furu’iyah. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari tuntutan dinamika kehidupannya. Begitu juga kesempatan untuk menemukan inovasi dalam hal sarana pelaksanaannya sesuai dengan tuntutan zaman dan kondisi kehidupan, yang semuanya itu tidak boleh bertentangan dengan ushul atau pokok-pokok ajaran yang permanen. Dari sini bisa kita pahami bahwa al-Qur'an itu benar-benar sempurna dalam ajarannya. Tidak ada satu pun masalah dalam kehidupan ini kecuali al-Qur'an telah memberikan petunjuk dan solusi. Allah berfirman, “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan,” (QS al-An’aam: 38). Dalam ayat lain berbunyi, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri,” (QS an-Nahl: 89).
Ketiga, penyempurna kehidupan manusia
Di antara rahmat Islam adalah keberadaannya sebagai penyempurna kebutuhan manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Rahmat Islam adalah meningkatkan dan melengkapi kebutuhan manusia agar menjadi lebih sempurna, bukan membatasi potensi manusia. Islam tidak pernah mematikan potensi manusia, Islam juga tidak pernah mengharamkan manusia untuk menikmati hasil karyanya dalam bentuk kebaikan-kebaikan dunia. “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (QS al-A`raf: 32).
Islam memberi petunjuk mana yang baik dan mana yang buruk, sedang manusia sering tidak mengetahuinya. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).
Keempat, jalan untuk kebaikan.
Rahmat dalam Islam juga bisa berupa ajarannya yang berisi jalan / cara mencapai kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Hanya kebanyakan manusia memandang jalan Islam tersebut memiliki beban yang berat, seperti kewajiban sholat dan zakat, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, kewajiban memakai jilbab bagi wanita dewasa, dan sebagainya. Padahal Allah SWT telah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS al-Baqarah: 286). Pada dasarnya, kewajiban tersebut hanyalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” (QS al-Isra’: 7).
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ajaran Islam itu adalah rahmat dalam artian yang luas, bukan rahmat yang dipahami oleh sebagian orang menurut seleranya sendiri. Rahmat dalam Islam adalah rahmat yang sesuai dengan kehendak Allah dan ajaran-Nya, baik berupa perintah atau larangan. Memerangi kemaksiatan itu adalah rahmat, sekalipun sebagian orang tidak setuju dengan tindakan tersebut. Jihad melawan orang kafir yang zalim adalah rahmat, meskipun sekelompok manusia tidak suka jihad dan menganggapnya sebagai tindakan kekerasan atau terorisme. Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).
Hendaknya kita jujur dalam mengungkapkan sebuah istilah. Jangan sampai kita menggunakan ungkapan seperti sejuk, damai, toleransi, rahmat, dan sebagainya, kemudian dikaitkan dengan kata ‘Islam’. Sementara ada tujuan lain yang justru bertentangan dengan Islam itu sendiri.
Wallahu a’lam bish shawab.
Disadur dari tulisan DR. Muslih Abdul Karim, www.aldakwah.org
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS 21: 107). Ayat di atas sering dijadikan hujjah bahwa Islam adalah agama rahmat. Itu benar. Rahmat Islam itu luas, seluas dan seluwes ajaran Islam itu sendiri. Itu pun juga pemahaman yang benar.
Sebagian orang secara sengaja (karena ada maksud buruk) ataupun tidak sengaja (karena pemahaman Islamnya yang tidak dalam), sering memaknai ayat tersebut diatas secara menyimpang. Mereka ini mengartikan rahmat Islam harus tercermin dalam suasana sosial yang sejuk, damai dan toleransi dimana saja Islam berada, apalagi sebagai mayoritas. Sementara dibaliknya sebenarnya ada tujuan lain atau kebodohan lain yang justru bertentangan dengan Islam itu sendiri, misalnya memboleh-bolehkan ucapan natal dari seorang Muslim terhadap umat Nasrani atau bersifat permisive terhadap ajaran sesat yang tetap mengaku Islam.
Islam sebagai rahmat bagi alam semesta adalah tujuan bukan proses. Artinya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta bisa jadi umat Islam harus melalui beberapa ujian, kesulitan atau peperangan seperti di zaman Rasulullah. Walau tidak selalu harus melalui langkah sulit apalagi perang, namun sejarah manapun selalu mengatakan kedamaian dan kesejukan selalu didapatkan dengan perjuangan. Misalnya, untuk menjadikan sebuah kota menjadi aman diperlukan kerjakeras polisi dan aparat hukum untuk memberi pelajaran bagi pelanggar hukum. Jadi logikanya, agar tercipta kesejukan, kedamaian dan toleransi yang baik maka hukum Islam harus diupayakan dapat dijalankan secara kaffah. Sebaliknya, jangan dikatakan bahwa umat Islam harus bersifat sejuk, damai dan toleransi kepada pelanggar hukum dengan alasan Islam adalah agama rahmat.
Mencari Rahmat Islam
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya. Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu,” (QS al-Baqarah: 208)
Ada banyak dimensi dari universalitas ajaran Islam. Di antaranya adalah, dimensi rahmat. Rahmat Allah yang bernama Islam meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia. Allah telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh manusia agar mereka mengambil petunjuk Allah. Dan tidak akan mendapatkan petunjuk-Nya, kecuali mereka yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS al-‘Ankabuut: 69).
Bentuk-bentuk Rahmat Islam
Ketika seseorang telah mendapat petunjuk Allah, maka ia benar-benar mendapat rahmat dengan arti yang seluas-luasnya. Dalam tataran praktis, ia mempunyai banyak bentuk.
Pertama, manhaj (ajaran).
Di antara rahmat Allah yang luas adalah manhaj atau ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw berupa manhaj yang menjawab kebahagiaan seluruh umat manusia, jauh dari kesusahan dan menuntunnya ke puncak kesempurnaan yang hakiki. Allah SWT berfirman, “Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),” (QS. Thahaa: 2-3). Di ayat lain, Dia berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…,” (QS Al-Maidah: 3).
Kedua, al-Qur'an.
Al-Qur'an telah meletakkan dasar-dasar atau pokok-pokok ajaran yang abadi dan permanen bagi kehidupan manusia yang selalu dinamis. Kitab suci terakhir ini memberikan kesempatan bagi manusia untuk beristimbath (mengambil kesimpulan) terhadap hukum-hukum yang bersifat furu’iyah. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari tuntutan dinamika kehidupannya. Begitu juga kesempatan untuk menemukan inovasi dalam hal sarana pelaksanaannya sesuai dengan tuntutan zaman dan kondisi kehidupan, yang semuanya itu tidak boleh bertentangan dengan ushul atau pokok-pokok ajaran yang permanen. Dari sini bisa kita pahami bahwa al-Qur'an itu benar-benar sempurna dalam ajarannya. Tidak ada satu pun masalah dalam kehidupan ini kecuali al-Qur'an telah memberikan petunjuk dan solusi. Allah berfirman, “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan,” (QS al-An’aam: 38). Dalam ayat lain berbunyi, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri,” (QS an-Nahl: 89).
Ketiga, penyempurna kehidupan manusia
Di antara rahmat Islam adalah keberadaannya sebagai penyempurna kebutuhan manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Rahmat Islam adalah meningkatkan dan melengkapi kebutuhan manusia agar menjadi lebih sempurna, bukan membatasi potensi manusia. Islam tidak pernah mematikan potensi manusia, Islam juga tidak pernah mengharamkan manusia untuk menikmati hasil karyanya dalam bentuk kebaikan-kebaikan dunia. “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (QS al-A`raf: 32).
Islam memberi petunjuk mana yang baik dan mana yang buruk, sedang manusia sering tidak mengetahuinya. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).
Keempat, jalan untuk kebaikan.
Rahmat dalam Islam juga bisa berupa ajarannya yang berisi jalan / cara mencapai kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Hanya kebanyakan manusia memandang jalan Islam tersebut memiliki beban yang berat, seperti kewajiban sholat dan zakat, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, kewajiban memakai jilbab bagi wanita dewasa, dan sebagainya. Padahal Allah SWT telah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS al-Baqarah: 286). Pada dasarnya, kewajiban tersebut hanyalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” (QS al-Isra’: 7).
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ajaran Islam itu adalah rahmat dalam artian yang luas, bukan rahmat yang dipahami oleh sebagian orang menurut seleranya sendiri. Rahmat dalam Islam adalah rahmat yang sesuai dengan kehendak Allah dan ajaran-Nya, baik berupa perintah atau larangan. Memerangi kemaksiatan itu adalah rahmat, sekalipun sebagian orang tidak setuju dengan tindakan tersebut. Jihad melawan orang kafir yang zalim adalah rahmat, meskipun sekelompok manusia tidak suka jihad dan menganggapnya sebagai tindakan kekerasan atau terorisme. Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).
Hendaknya kita jujur dalam mengungkapkan sebuah istilah. Jangan sampai kita menggunakan ungkapan seperti sejuk, damai, toleransi, rahmat, dan sebagainya, kemudian dikaitkan dengan kata ‘Islam’. Sementara ada tujuan lain yang justru bertentangan dengan Islam itu sendiri.
Wallahu a’lam bish shawab.
Disadur dari tulisan DR. Muslih Abdul Karim, www.aldakwah.org
Diantara Rahasia Siwak
Sebuah majalah Jerman memuat tulisan ilmuwan yang bernama Rudat, direktur Institut Perkumanan Universitas Rostock. Dalam tulisannya itu ia berkata, "Setelah saya membaca tentang siwak yang biasa digunakan Bangsa Arab sebagai sikat gigi, sejak saat itu pula saya mulai melakukan pengkajian. Penelitian ilmiah modern mengukuhkan, bahwa siwak mengandung zat yang melawan pembusukan, zat pembersih yang membantu membunuh kuman, memutihkan gigi, melindungi gigi dari kerapuhan, bekerja membantu merekatkan luka gusi dan pertumbuhannya secara sehat, dan melindungi mulut serta gigi dari berbagai penyakit. Sebagaimana telah terbukti bahwa siwak memiliki manfaat mencegah kanker."
Dalam penemuan ini terdapat dua mukjizat bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mukjizat pertama, yaitu manfaat-manfaat yang tampak pada siwak. Dengan ini, berarti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang pertama yang memerintahkan melindungi mulut dari berbagai macam penyakit. Mukjizat kedua, yaitu bagaimana Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bisa mengetahui dari sekian juta jenis pohon-pohonan, bahwa pohon siwak (saludora persica) mengandung banyak manfaat bagi manusia?
Inilah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menganjurkan kita untuk bersiwak,
السواك مطهرة للفم مرضاة للرب
"Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
sumber : http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatmujizat&id=69
Dalam penemuan ini terdapat dua mukjizat bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mukjizat pertama, yaitu manfaat-manfaat yang tampak pada siwak. Dengan ini, berarti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang pertama yang memerintahkan melindungi mulut dari berbagai macam penyakit. Mukjizat kedua, yaitu bagaimana Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bisa mengetahui dari sekian juta jenis pohon-pohonan, bahwa pohon siwak (saludora persica) mengandung banyak manfaat bagi manusia?
Inilah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menganjurkan kita untuk bersiwak,
السواك مطهرة للفم مرضاة للرب
"Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
sumber : http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatmujizat&id=69
Mengingat Mati
enghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hasungan untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat shahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)
Dalam hadits di atas ada beberapa faedah:
- Disunnahkannya setiap muslim yang sehat ataupun yang sedang sakit untuk mengingat mati dengan hati dan lisannya, serta memperbanyak mengingatnya hingga seakan-akan kematian di depan matanya. Karena dengannya akan menghalangi dan menghentikan seseorang dari berbuat maksiat serta dapat mendorong untuk beramal ketaatan.
- Mengingat mati di kala dalam kesempitan akan melapangkan hati seorang hamba. Sebaliknya, ketika dalam kesenangan hidup, ia tidak akan lupa diri dan mabuk kepayang. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan bersiap untuk “pergi.” (Bahjatun Nazhirin, 1/634)
Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah ucapan yang singkat dan ringkas, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” Namun padanya terkumpul peringatan dan sangat mengena sebagai nasihat, karena orang yang benar-benar mengingat mati akan merasa tiada berartinya kelezatan dunia yang sedang dihadapinya, sehingga menghalanginya untuk berangan-angan meraih dunia di masa mendatang. Sebaliknya, ia akan bersikap zuhud terhadap dunia. Namun bagi jiwa-jiwa yang keruh dan hati-hati yang lalai, perlu mendapatkan nasihat panjang lebar dan kata-kata yang panjang, walaupun sebenarnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).”
disertai firman Allah k:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” sudah mencukupi bagi orang yang mendengar dan melihat.
Alangkah bagusnya ucapan orang yang berkata:
اذْكُرِ الْمَوْتَ تَجِدُ رَاحَةً، فِي إِذْكَارِ الْمَوْتِ تَقْصِيْرُ اْلأَمَلِ
“Ingatlah mati niscaya kau kan peroleh kelegaan, dengan mengingat mati akan pendeklah angan-angan.”
Adalah Yazid Ar-Raqasyi rahimahullahu berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”
Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa? Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya… dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. (At-Tadzkirah, hal. 8-9)
Sungguh, hanya orang-orang cerdas cendikialah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Shahabat yang mulia, putra dari shahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’
‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9)
Bayangkanlah saat-saat sakaratul maut mendatangimu. Ayah yang penuh cinta berdiri di sisimu. Ibu yang penuh kasih juga hadir. Demikian pula anak-anakmu yang besar maupun yang kecil. Semua ada di sekitarmu. Mereka memandangimu dengan pandangan kasih sayang dan penuh kasihan. Air mata mereka tak henti mengalir membasahi wajah-wajah mereka. Hati mereka pun berselimut duka. Mereka semua berharap dan berangan-angan, andai engkau bisa tetap tinggal bersama mereka. Namun alangkah jauh dan mustahil ada seorang makhluk yang dapat menambah umurmu atau mengembalikan ruhmu. Sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan kepadamu, Dia jugalah yang mencabut kehidupan tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan. Dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”
Adalah ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bila mengingat mati ia gemetar seperti gemetarnya seekor burung. Ia mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan akan kematian, hari kiamat dan akhirat. Kemudian mereka menangis hingga seakan-akan di hadapan mereka ada jenazah. (At-Tadzkirah, hal. 9)
Tentunya tangis mereka diikuti oleh amal shalih setelahnya, berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersegera kepada kebaikan. Beda halnya dengan keadaan kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka yakin adanya surga tapi tidak mau beramal untuk meraihnya. Mereka juga yakin adanya neraka tapi mereka tidak takut. Mereka tahu bahwa mereka akan mati, tapi mereka tidak mempersiapkan bekal. Ibarat ungkapan penyair:
Aku tahu aku kan mati namun aku tak takut
Hatiku keras bak sebongkah batu
Aku mencari dunia seakan-akan hidupku kekal
Seakan lupa kematian mengintai di belakang
Padahal, ketika kematian telah datang, tak ada seorangpun yang dapat mengelak dan menundanya.
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Al-Munafiqun: 11)
Wahai betapa meruginya seseorang yang berjalan menuju alam keabadian tanpa membawa bekal. Janganlah engkau, wahai jiwa, termasuk yang tak beruntung tersebut. Perhatikanlah peringatan Rabbmu:
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدْ
“Dan hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan ayat di atas dengan menyatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1388)
Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu engkau berharap penangguhan.
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)
Karenanya, berbekallah! Persiapkan amal shalih dan jauhi kedurhakaan kepada-Nya! Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)
Dalam hadits di atas ada beberapa faedah:
- Disunnahkannya setiap muslim yang sehat ataupun yang sedang sakit untuk mengingat mati dengan hati dan lisannya, serta memperbanyak mengingatnya hingga seakan-akan kematian di depan matanya. Karena dengannya akan menghalangi dan menghentikan seseorang dari berbuat maksiat serta dapat mendorong untuk beramal ketaatan.
- Mengingat mati di kala dalam kesempitan akan melapangkan hati seorang hamba. Sebaliknya, ketika dalam kesenangan hidup, ia tidak akan lupa diri dan mabuk kepayang. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan bersiap untuk “pergi.” (Bahjatun Nazhirin, 1/634)
Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah ucapan yang singkat dan ringkas, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” Namun padanya terkumpul peringatan dan sangat mengena sebagai nasihat, karena orang yang benar-benar mengingat mati akan merasa tiada berartinya kelezatan dunia yang sedang dihadapinya, sehingga menghalanginya untuk berangan-angan meraih dunia di masa mendatang. Sebaliknya, ia akan bersikap zuhud terhadap dunia. Namun bagi jiwa-jiwa yang keruh dan hati-hati yang lalai, perlu mendapatkan nasihat panjang lebar dan kata-kata yang panjang, walaupun sebenarnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).”
disertai firman Allah k:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” sudah mencukupi bagi orang yang mendengar dan melihat.
Alangkah bagusnya ucapan orang yang berkata:
اذْكُرِ الْمَوْتَ تَجِدُ رَاحَةً، فِي إِذْكَارِ الْمَوْتِ تَقْصِيْرُ اْلأَمَلِ
“Ingatlah mati niscaya kau kan peroleh kelegaan, dengan mengingat mati akan pendeklah angan-angan.”
Adalah Yazid Ar-Raqasyi rahimahullahu berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”
Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa? Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya… dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. (At-Tadzkirah, hal. 8-9)
Sungguh, hanya orang-orang cerdas cendikialah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Shahabat yang mulia, putra dari shahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’
‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9)
Bayangkanlah saat-saat sakaratul maut mendatangimu. Ayah yang penuh cinta berdiri di sisimu. Ibu yang penuh kasih juga hadir. Demikian pula anak-anakmu yang besar maupun yang kecil. Semua ada di sekitarmu. Mereka memandangimu dengan pandangan kasih sayang dan penuh kasihan. Air mata mereka tak henti mengalir membasahi wajah-wajah mereka. Hati mereka pun berselimut duka. Mereka semua berharap dan berangan-angan, andai engkau bisa tetap tinggal bersama mereka. Namun alangkah jauh dan mustahil ada seorang makhluk yang dapat menambah umurmu atau mengembalikan ruhmu. Sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan kepadamu, Dia jugalah yang mencabut kehidupan tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan. Dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”
Adalah ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bila mengingat mati ia gemetar seperti gemetarnya seekor burung. Ia mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan akan kematian, hari kiamat dan akhirat. Kemudian mereka menangis hingga seakan-akan di hadapan mereka ada jenazah. (At-Tadzkirah, hal. 9)
Tentunya tangis mereka diikuti oleh amal shalih setelahnya, berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersegera kepada kebaikan. Beda halnya dengan keadaan kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka yakin adanya surga tapi tidak mau beramal untuk meraihnya. Mereka juga yakin adanya neraka tapi mereka tidak takut. Mereka tahu bahwa mereka akan mati, tapi mereka tidak mempersiapkan bekal. Ibarat ungkapan penyair:
Aku tahu aku kan mati namun aku tak takut
Hatiku keras bak sebongkah batu
Aku mencari dunia seakan-akan hidupku kekal
Seakan lupa kematian mengintai di belakang
Padahal, ketika kematian telah datang, tak ada seorangpun yang dapat mengelak dan menundanya.
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Al-Munafiqun: 11)
Wahai betapa meruginya seseorang yang berjalan menuju alam keabadian tanpa membawa bekal. Janganlah engkau, wahai jiwa, termasuk yang tak beruntung tersebut. Perhatikanlah peringatan Rabbmu:
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدْ
“Dan hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan ayat di atas dengan menyatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1388)
Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu engkau berharap penangguhan.
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)
Karenanya, berbekallah! Persiapkan amal shalih dan jauhi kedurhakaan kepada-Nya! Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
ISLAM DAN demokrasi
Gagasan demokrasi dibawa ke negara-negara berpenduduk Muslim oleh para pemikir Islam yang mempelajari budaya Barat.
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, gelombang demokrasi telah meluas ke berbagai negara, tak terkecuali negara-negara berpenduduk Muslim. Wacana demokrasi dan Islam yang kerap diwarnai pro dan kontra selalu menarik untuk diperbincangkan.
''Hubungan antara Islam dan demokrasi dalam dunia saat ini begitu kompleks,'' ungkap John L Esposito dan John O Voll dalam tulisannya berjudul Islam and Democracy. Lalu bisakah demokrasi dan Islam bisa cocok (compatible) dan berdampingan?
Konon, demokrasi berakar dari peradaban bangsa Yunani Kuno pada 500 SM. Dari negeri itulah, asal kata democratia, yang demos berarti rakyat dan cratia berarti pemerintahan. Chleisthenes - tokoh pada masa itu -- dianggap banyak memberi kontirbusi dalam pengembangan demokrasi.
Chleisthenes adalah tokoh pembaharu Athena yang menggagas sebuah sistem pemerintahan kota. Pada 508 SM, Chleisthenes membagi peran warga Athena ke dalam 10 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari beberapa demes yang mengirimkan wakilnya ke Majelis yang terdiri dari 500 orang wakil.
Sejatinya, jauh sebelum bangsa Yunani mengenal demokrasi. Para ilmuwan meyakini, bangsa Sumeria yang tinggal di Mesopotamia juga telah mempraktikkan bentuk-bentuk demokrasi. Konon, masyarakat India Kuno pun telah menerapkan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan mereka, jauh sebelum Yunani dan Romawi.
''Demokrasi muncul dari pemikiran manusia,'' ungkap Aristoteles seorang pemikir termasyhur dari Yunani. Gagasan demokrasi yang berkembang di Yunani sempat hilang di barat, saat Romawi Barat takluk ke tangan suku Jerman. Pada abad pertengahan, Eropa Barat menganut sistem feodal. Kehidupan sosial dan spiritual dikuasai Paus dan pejabat agama Lawuja. Magna Charta yang lahir pada 1215 dianggap sebagai jalan pembuka munculnya kembali demokrasi di Barat. Pada masa itu, muncullah pemikir-pemikir yang mendukung berkembangnya demokrasi seperti, John Locke dari Inggris (1632-1704) dan Montesquieu dari Prancis (1689-1755).
Demokrasi tumbuh begitu pesat ketika Eropa bangkit di abad pencerahan. Pada masa itulah lahir pemikiran-pemikiran besar tentang relasi antara penguasa dengan rakyat, atau negara dan masyarakat. Secara sederhana, Ulf Sundhaussen karya tulisannya Demokrasi dan Kelas Menengah menyebutkan beberapa kriteria demokrasi.
Pertama, adanya jaminan hak bagi setiap warga negara untuk memilih dan dipilih dalam pemilu yag diadakan secara berkala dan bebas. Kedua, setiap warga negara menikmati kebebasan berbicara, berorganisasi, mendapatkan informasi, serta beragama. Ketiga, dijaminnya kesamaan hak di depan umum.
Sementara itu, Joseph Schumpter dalam Capitalism, Socialism and Democracy menyatakan demokrasi sebagai mekanisme pasar. Para pemilih bertindak sebagai konsumen dan para politisi adalah wiraswastanya. Ide demokrasi terus mengalir hingga ke Timur Tengah pada pertengahan abad ke-19.
Gagasan demokrasi itu dibawa ke negara-negara berpenduduk Muslim oleh para pemikir Islam yang mempelajari budaya Barat. Para pemikir inilah yang kemudian menekankan pentingnya umat Islam untuk mengadopsi hukum-hukum Barat dengan cara selektif. Salah satu pemikir Islam yang menekankan hal itu adalah Muhammad Abduh (1848-1905) - pembaru pemikiran Islam di Mesir.
Melalui Al-Manar, Abduh menekankan pentingnya penguatan moral akar rumput masyarakat Islam, dengan kembali ke masa lalu, namun mengakui dan menerima kebutuhan untuk berubah, serta menghubungkan perubahan itu dengan ajaran Islam. Abduh meyakini Islam dapat mengadopsi untuk berubah sekaligus mengendalikan perubahan itu.
''Islam dapat menjadi basis moral sebuah masyarakat yang progresif dan modern,'' papar Abduh. Seabad kemudian, banyak negara Muslim di dunia yang memilih demokrasi untuk diterapkan dalam menjalankan roda pemerintahannya.
Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World membagi pandangan umat Islam terhadap demokrasi ke dalam dua kelompok, yakni liberal dan konservatif. Para pendukung Islam liberal dipengaruhi Muhammad Abduh. Kelompok ini menyatakan bahwa agama Islam tak bertentangan dengan perspektif sekuler.
Menurut kelompok ini, Islam mendorong umatnya untuk mendirikan pemerintahan yang berbasis pada pemikiran modern. Tiga konsep yang menjadi perhatian penganut kelompok Islam liberal adalah Syura (musyawarah), Al-Maslahah (kepentingan umum), dan 'Adl (keadilan).
Kelompok ini memandang tidak ada kesepakatan diantara ilmuwan Islam mengenai syura. Meski begitu, pada dasarnya mereka sepakat pada ayat Alquran yang memerintahkan Nabi untuk berkonsultasi dengan penasehatnya. Penganut paham liberal juga meyakini Muslim yang baik perlu bermusyawarah dengan orang lain untuk membangun hubungan. Bagi mereka, demokrasi tak bertentangan dengan Islam.
Sementara itu, kelompok konservatif menyatakan kedaulatan bukan berada di tangan manusia, tetapi di tangan Tuhan. Pandangan kelompok konservatif banyak dipengaruhi pemikiran ulama asal Mesir, Sayyid Qutb (1906-1966). Ia menyatakan, sistem negara-negara Arab yang tak Islami sebagai bagian dari jahiliyah modern.
Menurut Sayyid Qutb, banyak aspek yang berlaku dalam kehidupan modern, termsuk institusi dan kepercayaan barat sebagai kejahatan dan bertentangan dengan Islam. Dia meyakini, universalitas dan kesempurnaan Islam sangat cocok bagi setiap orang tanpa memandang tempat dan waktu. Syariah menjadi sumber aturan kehidupan.
Pemikir Islam lainnya, Hasan Al-Turabi, menyatakan sistem sosial dan politik perlu didasarkan pada tauhid. Menurut dia, syura dan tauhid bergandengan tangan.
''Syura dibutuhkan untuk menerjemahkan syariah dalam berhubungan dengan konstitusi, hukum, sosial dan masalah-masalah ekonomi,'' papar Al-Turabi. Bagi kelompok konservatif, syura sangat berbeda dengan gaya demokrasi Barat. Begitulah umat Islam memandang demokrasi.
Syura Model Demokrasi Islam
Selepas wafatnya Rasulullah SAW pada 12 Rabiulawal 11 H, para sahabat memutuskan untuk mencari tokoh yang dapat memimpin umat Islam. Sebelum Rasulullah wafat, beliau tidak menunjuk pengganti atau mewariskan kepemimpinannya kepada seseorang. Suksesi kepemimpinan pada waktu itu dilakukan para sahabat dengan musyawarah (syura) dan pemilihan.
Masyarakat Islam dengan sukarela dan tanpa paksaan mengakui dan menyetujui empat sahabat Rasulullah, secara berurutan, Abu Bakar as-Siddiq, Umat bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, menjadi Khulafa' ar-Rasyidin (para pengganti yang memberi bimbingan). Pemilihan dan musyawarah dilakukan sesuai dengan kondisi saat itu.
Sejak saat itulah, kemudian muncul istilah syura dalam kehidupan politik, sosial, dan kemasyarakatan umat Islam. Syura berarti permusyawaratan, hal bermusyawarah atau konsultasi.
Dalam surat Ali Imran ayat 159 Allah SAWT berfirman, ''Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan bermusyawarlah (syawir) dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila telah berbulat tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang betawakal kepada-Nya.''
Dengan ayat itu, Islam menjadikan syura sebagai prinsip utama dalam menyelesaikan masala-masalah sosial, politik dan pemerintahan. Syura merupakan suatu sarana dan cara memberi kesempatan kepada anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan yang mengikat, baik dalam bentuk peraturan hukum maupun kebijaksanaan politik.
Setiap orang yang bermusyawarah tentu akan berusaha menyatakan pendapat yang baik, sehingga masalah atau persoalan yang dihadapi bisa diselesaikan. Jika para pemimpin masyarakat, politik dan pemerintahan mengikutsertakan rakyat untuk memusyawarahkan suatu urusan, maka rakyat akan memahaminya dan ikut berpartisipasi dalam melaksanakannya.
Dengan begitu rakyat terhindar dari kesewenang-wenangan. Melalui ayat itu pula, Allah melarang para pemimpin umat memutuskan suatu urusan dengan sewenang-wenang tanpa memperhatikan aspirasi umat.
Al-Qurtubi, seorang mufasir mengungkapkan,''Musyawarah adalah salah satu kaidah syara dalam ketentuan hukum yang harus ditegakkan. Maka barang siapa yang menjabat sebagai kepala negara , tetapi ia tidak bermusyawarah dengan ahli ilmu dan agama (ulama) maka harus dipecat.''
Bentuk pelaksanaan syura memang tak ada yang menjelaskannya. Nabi Muhammad SAW yang gemar bermusyawarag dengan para sahabatnya tak mempunyai pola dan bentuk tertentu. Sehingga, bentuk pelaksanaan syura bisa disesuaikan dengan kondisi dan zaman umat Islam.
Apa Kata Mereka tentang Demokrasi
Setiap tokoh berbeda pendapat dalam menilai demokrasi yang saat ini banyak diterapkan negara-negara Muslim. Inilah pendapat mereka:
- Ayatollah Khomeini (pemimpin Spiritual Iran): Demokrasi adalah sebuah bentuk dari prostitusi, sebab dia yang memenangkan suara terbanyak akan meraih kekuasaan, yang sesungguhnya kekuasaan itu adalah milik Tuhan.
- Aristoteles (pemikir Yunani): Pemberlakuan demokrasi sebagai suatu kemerosotan. Alasannya ketidakmungkinan orang banyak untuk memerintah yang kecil jumlahnya.
- Plato (pemikir Yunani): Kebanyakan orang adalah bodoh atau jahat atau kedua-duanya dan cenderung berpihak kepada diri sendiri. Jika orang banyak ini dituruti, maka muncullah kekuasaan yang bertumpu pada ketiranian dan terror.
- Winston Churchil (Mantan PM Inggris): Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari bentuk pemerintahan.
- Abraham Lincoln: ( Mantan Presiden AS): Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, gelombang demokrasi telah meluas ke berbagai negara, tak terkecuali negara-negara berpenduduk Muslim. Wacana demokrasi dan Islam yang kerap diwarnai pro dan kontra selalu menarik untuk diperbincangkan.
''Hubungan antara Islam dan demokrasi dalam dunia saat ini begitu kompleks,'' ungkap John L Esposito dan John O Voll dalam tulisannya berjudul Islam and Democracy. Lalu bisakah demokrasi dan Islam bisa cocok (compatible) dan berdampingan?
Konon, demokrasi berakar dari peradaban bangsa Yunani Kuno pada 500 SM. Dari negeri itulah, asal kata democratia, yang demos berarti rakyat dan cratia berarti pemerintahan. Chleisthenes - tokoh pada masa itu -- dianggap banyak memberi kontirbusi dalam pengembangan demokrasi.
Chleisthenes adalah tokoh pembaharu Athena yang menggagas sebuah sistem pemerintahan kota. Pada 508 SM, Chleisthenes membagi peran warga Athena ke dalam 10 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari beberapa demes yang mengirimkan wakilnya ke Majelis yang terdiri dari 500 orang wakil.
Sejatinya, jauh sebelum bangsa Yunani mengenal demokrasi. Para ilmuwan meyakini, bangsa Sumeria yang tinggal di Mesopotamia juga telah mempraktikkan bentuk-bentuk demokrasi. Konon, masyarakat India Kuno pun telah menerapkan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan mereka, jauh sebelum Yunani dan Romawi.
''Demokrasi muncul dari pemikiran manusia,'' ungkap Aristoteles seorang pemikir termasyhur dari Yunani. Gagasan demokrasi yang berkembang di Yunani sempat hilang di barat, saat Romawi Barat takluk ke tangan suku Jerman. Pada abad pertengahan, Eropa Barat menganut sistem feodal. Kehidupan sosial dan spiritual dikuasai Paus dan pejabat agama Lawuja. Magna Charta yang lahir pada 1215 dianggap sebagai jalan pembuka munculnya kembali demokrasi di Barat. Pada masa itu, muncullah pemikir-pemikir yang mendukung berkembangnya demokrasi seperti, John Locke dari Inggris (1632-1704) dan Montesquieu dari Prancis (1689-1755).
Demokrasi tumbuh begitu pesat ketika Eropa bangkit di abad pencerahan. Pada masa itulah lahir pemikiran-pemikiran besar tentang relasi antara penguasa dengan rakyat, atau negara dan masyarakat. Secara sederhana, Ulf Sundhaussen karya tulisannya Demokrasi dan Kelas Menengah menyebutkan beberapa kriteria demokrasi.
Pertama, adanya jaminan hak bagi setiap warga negara untuk memilih dan dipilih dalam pemilu yag diadakan secara berkala dan bebas. Kedua, setiap warga negara menikmati kebebasan berbicara, berorganisasi, mendapatkan informasi, serta beragama. Ketiga, dijaminnya kesamaan hak di depan umum.
Sementara itu, Joseph Schumpter dalam Capitalism, Socialism and Democracy menyatakan demokrasi sebagai mekanisme pasar. Para pemilih bertindak sebagai konsumen dan para politisi adalah wiraswastanya. Ide demokrasi terus mengalir hingga ke Timur Tengah pada pertengahan abad ke-19.
Gagasan demokrasi itu dibawa ke negara-negara berpenduduk Muslim oleh para pemikir Islam yang mempelajari budaya Barat. Para pemikir inilah yang kemudian menekankan pentingnya umat Islam untuk mengadopsi hukum-hukum Barat dengan cara selektif. Salah satu pemikir Islam yang menekankan hal itu adalah Muhammad Abduh (1848-1905) - pembaru pemikiran Islam di Mesir.
Melalui Al-Manar, Abduh menekankan pentingnya penguatan moral akar rumput masyarakat Islam, dengan kembali ke masa lalu, namun mengakui dan menerima kebutuhan untuk berubah, serta menghubungkan perubahan itu dengan ajaran Islam. Abduh meyakini Islam dapat mengadopsi untuk berubah sekaligus mengendalikan perubahan itu.
''Islam dapat menjadi basis moral sebuah masyarakat yang progresif dan modern,'' papar Abduh. Seabad kemudian, banyak negara Muslim di dunia yang memilih demokrasi untuk diterapkan dalam menjalankan roda pemerintahannya.
Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World membagi pandangan umat Islam terhadap demokrasi ke dalam dua kelompok, yakni liberal dan konservatif. Para pendukung Islam liberal dipengaruhi Muhammad Abduh. Kelompok ini menyatakan bahwa agama Islam tak bertentangan dengan perspektif sekuler.
Menurut kelompok ini, Islam mendorong umatnya untuk mendirikan pemerintahan yang berbasis pada pemikiran modern. Tiga konsep yang menjadi perhatian penganut kelompok Islam liberal adalah Syura (musyawarah), Al-Maslahah (kepentingan umum), dan 'Adl (keadilan).
Kelompok ini memandang tidak ada kesepakatan diantara ilmuwan Islam mengenai syura. Meski begitu, pada dasarnya mereka sepakat pada ayat Alquran yang memerintahkan Nabi untuk berkonsultasi dengan penasehatnya. Penganut paham liberal juga meyakini Muslim yang baik perlu bermusyawarah dengan orang lain untuk membangun hubungan. Bagi mereka, demokrasi tak bertentangan dengan Islam.
Sementara itu, kelompok konservatif menyatakan kedaulatan bukan berada di tangan manusia, tetapi di tangan Tuhan. Pandangan kelompok konservatif banyak dipengaruhi pemikiran ulama asal Mesir, Sayyid Qutb (1906-1966). Ia menyatakan, sistem negara-negara Arab yang tak Islami sebagai bagian dari jahiliyah modern.
Menurut Sayyid Qutb, banyak aspek yang berlaku dalam kehidupan modern, termsuk institusi dan kepercayaan barat sebagai kejahatan dan bertentangan dengan Islam. Dia meyakini, universalitas dan kesempurnaan Islam sangat cocok bagi setiap orang tanpa memandang tempat dan waktu. Syariah menjadi sumber aturan kehidupan.
Pemikir Islam lainnya, Hasan Al-Turabi, menyatakan sistem sosial dan politik perlu didasarkan pada tauhid. Menurut dia, syura dan tauhid bergandengan tangan.
''Syura dibutuhkan untuk menerjemahkan syariah dalam berhubungan dengan konstitusi, hukum, sosial dan masalah-masalah ekonomi,'' papar Al-Turabi. Bagi kelompok konservatif, syura sangat berbeda dengan gaya demokrasi Barat. Begitulah umat Islam memandang demokrasi.
Syura Model Demokrasi Islam
Selepas wafatnya Rasulullah SAW pada 12 Rabiulawal 11 H, para sahabat memutuskan untuk mencari tokoh yang dapat memimpin umat Islam. Sebelum Rasulullah wafat, beliau tidak menunjuk pengganti atau mewariskan kepemimpinannya kepada seseorang. Suksesi kepemimpinan pada waktu itu dilakukan para sahabat dengan musyawarah (syura) dan pemilihan.
Masyarakat Islam dengan sukarela dan tanpa paksaan mengakui dan menyetujui empat sahabat Rasulullah, secara berurutan, Abu Bakar as-Siddiq, Umat bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, menjadi Khulafa' ar-Rasyidin (para pengganti yang memberi bimbingan). Pemilihan dan musyawarah dilakukan sesuai dengan kondisi saat itu.
Sejak saat itulah, kemudian muncul istilah syura dalam kehidupan politik, sosial, dan kemasyarakatan umat Islam. Syura berarti permusyawaratan, hal bermusyawarah atau konsultasi.
Dalam surat Ali Imran ayat 159 Allah SAWT berfirman, ''Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan bermusyawarlah (syawir) dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila telah berbulat tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang betawakal kepada-Nya.''
Dengan ayat itu, Islam menjadikan syura sebagai prinsip utama dalam menyelesaikan masala-masalah sosial, politik dan pemerintahan. Syura merupakan suatu sarana dan cara memberi kesempatan kepada anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan yang mengikat, baik dalam bentuk peraturan hukum maupun kebijaksanaan politik.
Setiap orang yang bermusyawarah tentu akan berusaha menyatakan pendapat yang baik, sehingga masalah atau persoalan yang dihadapi bisa diselesaikan. Jika para pemimpin masyarakat, politik dan pemerintahan mengikutsertakan rakyat untuk memusyawarahkan suatu urusan, maka rakyat akan memahaminya dan ikut berpartisipasi dalam melaksanakannya.
Dengan begitu rakyat terhindar dari kesewenang-wenangan. Melalui ayat itu pula, Allah melarang para pemimpin umat memutuskan suatu urusan dengan sewenang-wenang tanpa memperhatikan aspirasi umat.
Al-Qurtubi, seorang mufasir mengungkapkan,''Musyawarah adalah salah satu kaidah syara dalam ketentuan hukum yang harus ditegakkan. Maka barang siapa yang menjabat sebagai kepala negara , tetapi ia tidak bermusyawarah dengan ahli ilmu dan agama (ulama) maka harus dipecat.''
Bentuk pelaksanaan syura memang tak ada yang menjelaskannya. Nabi Muhammad SAW yang gemar bermusyawarag dengan para sahabatnya tak mempunyai pola dan bentuk tertentu. Sehingga, bentuk pelaksanaan syura bisa disesuaikan dengan kondisi dan zaman umat Islam.
Apa Kata Mereka tentang Demokrasi
Setiap tokoh berbeda pendapat dalam menilai demokrasi yang saat ini banyak diterapkan negara-negara Muslim. Inilah pendapat mereka:
- Ayatollah Khomeini (pemimpin Spiritual Iran): Demokrasi adalah sebuah bentuk dari prostitusi, sebab dia yang memenangkan suara terbanyak akan meraih kekuasaan, yang sesungguhnya kekuasaan itu adalah milik Tuhan.
- Aristoteles (pemikir Yunani): Pemberlakuan demokrasi sebagai suatu kemerosotan. Alasannya ketidakmungkinan orang banyak untuk memerintah yang kecil jumlahnya.
- Plato (pemikir Yunani): Kebanyakan orang adalah bodoh atau jahat atau kedua-duanya dan cenderung berpihak kepada diri sendiri. Jika orang banyak ini dituruti, maka muncullah kekuasaan yang bertumpu pada ketiranian dan terror.
- Winston Churchil (Mantan PM Inggris): Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari bentuk pemerintahan.
- Abraham Lincoln: ( Mantan Presiden AS): Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.
Melawan Setan
Oleh : Muslimmodern@gmail.com
Ada sebuah pertandingan tinju. Petinju yang satu ditutup kepalanya sehingga tidak bisa melihat, sedangkan petunju yang satunya lagi tidak ditutup dan bisa bebas bergerak. Apa yang akan terjadi? Petinju yang ditutup kepalanya pasti akan menjadi bulan-bulanan lawannya.
Pertarungan kedua petinju tersebut, sesungguhnya menggambarkan pertarungan antara setan dengan manusia. Betapa sengsaranya jika kita harus bertarung dengan makhluk yang tidak terlihat, sedangkan ia bisa melihat kita. Tugas setan hanya satu, yaitu menggoda dan menggelincirkan manusia, sedangkan tugas kita sangat banyak. Setan menggoda manusia secara berjamaah, sedangkan kita harus menghadapinya sendirian.
Karena itu, tanpa berlindung kepada Allah, kita akan menjadi bulan-bulanan mereka. Analoginya, jika kita diganggu anjing galak, maka cara yang paling efektif untuk selamat, adalah meminta tolong kepada pemilik anjing tersebut. Inilah yang Allah perintahkan, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al A'raaf [7]: 200).
Melihat berbagai keterbatasan manusia, Allah SWT telah memberikan aneka perlindungan kepada kita. Salah satunya dengan zikir. Zikir yang dilakukan dengan benar dan ikhlas, akan membuat setan tidak berkutik. Zikir di sini termasuk pula shalat, tilawah Al-Quran serta membaca doa. Dari Harits Al Asyari bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku perintahkan kepada kalian agar selalu berzikir kepada Allah. Sesungguhnya, perumpamaan orang yang berzikir itu seperti seorang yang dicari-cari oleh musuhnya. Mereka menyebar mencari orang tersebut sehingga ia sampai pada suatu benteng yang sangat kokoh dan ia dapat melindungi dirinya di dalam benteng tersebut dari kejaran musuh. Begitu juga setan. Seorang hamba tidak akan dapat meindungi dirinya dari setan, kecuali dengan berzikir kepada Allah.
Sesungguhnya, zikir akan membuat hati kita akan tenang, cemerlang, iman bertambah kuat dan hawa nafsu bisa lebih terkendali (QS Ar Ra'd [13]: 28). Nah, ketika nafsu kita terkendali, maka setan tidak lagi memiliki daya. Sebab, setan hanya bisa menggoda manusia dengan memanfaatkan hawa nafsu. Itulah sebabnya tipu daya setan tidak berdaya sedikit pun terhadap orang-orang ikhlas, yaitu orang-orang yang telah mampu menempatkan Allah di atas hawa nafsunya (QS Shaad [38]: 82-83).
Rasulullah SAW telah mencontohkan beberapa zikir pendek yang bisa membentengi kita dari tipu daya setan. Di antaranya, ucapan ta'awudz, a'uzdubillahi minassyaithaani rajiimi. Selain membaca basmalah, sangat baik pula jika kita membaca ta'awudz sebelum beraktivitas, agar Allah melindungi kita dari tipu daya setan.
Juga ucapan, “Bismillahi tawakkaltu 'alallahu laa haula wa laa quwwata illa billahi”. Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dari Allah semata. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang membaca doa ini ketika keluar dari rumahnya, maka Allah akan memberinya petunjuk, menjaga serta memalingkannya dari godaan setan.
Dan yang ketiga, ucapan istighfar serta tahlil. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengucap 'La Laa Ilaha illaallahu' dan beristighfar. Karena setan berkata, 'Aku telah membinasakan mereka dengan dosa, sedangkan mereka membinasakanku dengan ucapan 'La Laa Ilaha illaallahu' serta dengan beristighfar. Ketika aku melihat hal itu, aku binasakan mereka dengan hawa nafsu. Sehingga mereka akhirnya menyangka bahwa mereka terus berada dalam naungan hidayah, dan mereka pun tidak lagi beristighfar” (HR Abu Ya'la dan Ad Dailami).
Saudaraku, ada banyak zikir lain yang bisa kita baca dalam berbagai waktu dan kesempatan. Misal, saat hendak tidur, bangun tidur, makan, berhubungan suami istri, dsb. Termasuk pula membaca Al Ma'tsurat setelah shalat Subuh dan Asar. Bertaburan pula ayat-ayat Alquran dan hadits yang bisa kita jadikan materi zikir. Insya Allah, jika hati kita senantiasa tersambung kepada Allah, maka akan ada benteng kokoh antara kita dan setan.
Oleh : Muslimmodern@gmail.com
Ada sebuah pertandingan tinju. Petinju yang satu ditutup kepalanya sehingga tidak bisa melihat, sedangkan petunju yang satunya lagi tidak ditutup dan bisa bebas bergerak. Apa yang akan terjadi? Petinju yang ditutup kepalanya pasti akan menjadi bulan-bulanan lawannya.
Pertarungan kedua petinju tersebut, sesungguhnya menggambarkan pertarungan antara setan dengan manusia. Betapa sengsaranya jika kita harus bertarung dengan makhluk yang tidak terlihat, sedangkan ia bisa melihat kita. Tugas setan hanya satu, yaitu menggoda dan menggelincirkan manusia, sedangkan tugas kita sangat banyak. Setan menggoda manusia secara berjamaah, sedangkan kita harus menghadapinya sendirian.
Karena itu, tanpa berlindung kepada Allah, kita akan menjadi bulan-bulanan mereka. Analoginya, jika kita diganggu anjing galak, maka cara yang paling efektif untuk selamat, adalah meminta tolong kepada pemilik anjing tersebut. Inilah yang Allah perintahkan, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al A'raaf [7]: 200).
Melihat berbagai keterbatasan manusia, Allah SWT telah memberikan aneka perlindungan kepada kita. Salah satunya dengan zikir. Zikir yang dilakukan dengan benar dan ikhlas, akan membuat setan tidak berkutik. Zikir di sini termasuk pula shalat, tilawah Al-Quran serta membaca doa. Dari Harits Al Asyari bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku perintahkan kepada kalian agar selalu berzikir kepada Allah. Sesungguhnya, perumpamaan orang yang berzikir itu seperti seorang yang dicari-cari oleh musuhnya. Mereka menyebar mencari orang tersebut sehingga ia sampai pada suatu benteng yang sangat kokoh dan ia dapat melindungi dirinya di dalam benteng tersebut dari kejaran musuh. Begitu juga setan. Seorang hamba tidak akan dapat meindungi dirinya dari setan, kecuali dengan berzikir kepada Allah.
Sesungguhnya, zikir akan membuat hati kita akan tenang, cemerlang, iman bertambah kuat dan hawa nafsu bisa lebih terkendali (QS Ar Ra'd [13]: 28). Nah, ketika nafsu kita terkendali, maka setan tidak lagi memiliki daya. Sebab, setan hanya bisa menggoda manusia dengan memanfaatkan hawa nafsu. Itulah sebabnya tipu daya setan tidak berdaya sedikit pun terhadap orang-orang ikhlas, yaitu orang-orang yang telah mampu menempatkan Allah di atas hawa nafsunya (QS Shaad [38]: 82-83).
Rasulullah SAW telah mencontohkan beberapa zikir pendek yang bisa membentengi kita dari tipu daya setan. Di antaranya, ucapan ta'awudz, a'uzdubillahi minassyaithaani rajiimi. Selain membaca basmalah, sangat baik pula jika kita membaca ta'awudz sebelum beraktivitas, agar Allah melindungi kita dari tipu daya setan.
Juga ucapan, “Bismillahi tawakkaltu 'alallahu laa haula wa laa quwwata illa billahi”. Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dari Allah semata. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang membaca doa ini ketika keluar dari rumahnya, maka Allah akan memberinya petunjuk, menjaga serta memalingkannya dari godaan setan.
Dan yang ketiga, ucapan istighfar serta tahlil. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengucap 'La Laa Ilaha illaallahu' dan beristighfar. Karena setan berkata, 'Aku telah membinasakan mereka dengan dosa, sedangkan mereka membinasakanku dengan ucapan 'La Laa Ilaha illaallahu' serta dengan beristighfar. Ketika aku melihat hal itu, aku binasakan mereka dengan hawa nafsu. Sehingga mereka akhirnya menyangka bahwa mereka terus berada dalam naungan hidayah, dan mereka pun tidak lagi beristighfar” (HR Abu Ya'la dan Ad Dailami).
Saudaraku, ada banyak zikir lain yang bisa kita baca dalam berbagai waktu dan kesempatan. Misal, saat hendak tidur, bangun tidur, makan, berhubungan suami istri, dsb. Termasuk pula membaca Al Ma'tsurat setelah shalat Subuh dan Asar. Bertaburan pula ayat-ayat Alquran dan hadits yang bisa kita jadikan materi zikir. Insya Allah, jika hati kita senantiasa tersambung kepada Allah, maka akan ada benteng kokoh antara kita dan setan.
Senin, 01 Juni 2009
PENGARUH PERBUATAN BAIK DAN UCAPAN YANG BAIK
Manusia senantiasa mencari lingkungan yang tenang tempat mereka dapat hidup dengan aman, gembira, dan membina persahabatan. Meskipun mereka merindukan keadaan yang demikian itu, mereka tidak pernah melakukan usaha untuk menyuburkan nilai-nilai tersebut, tetapi sebaliknya, mereka sendirilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dan kesengsaraan. Sering kali orang mengharapkan agar orang lain memberikan ketenangan, kedamaian, dan bersikap bersahabat. Hal ini berlaku dalam hubungan keluarga, hubungan antara pegawai di perusahaan, hubungan kemasyarakatan, mahupun persoalan internasional. Namun, untuk membina persahabatan dan menciptakan kedamaian dan keamanan diperlukan sikap mahu mengorbankan diri. Konflik dan keresahan tidak dapat dihindari jika orang-orang hanya bersikukuh pada ucapannya, jika mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa bersedia melakukan kompromi atau pengorbanan. Bagaimanapun, orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak bersikap seperti itu. Orang-orang yang beriman tidak mementingkan diri sendiri, suka memaafkan, dan sabar. Bahkan ketika mereka dizalimi, mereka bersedia mengabaikan hak-hak mereka. Mereka menganggap bahawa kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan orang lain lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka, dan mereka menunjukkan sikap yang santun. Ini merupakan sifat mulia yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman:
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat: 34-5).
“Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. an-Nahl: 125).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baiknya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi "teman yang setia". Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manusia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan fikiran siapa saja yang Dia kehendaki. Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar mendatangi Fir'aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir'aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerintahkan rasul-Nya agar berbincang kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur'an:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbincanglah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudahmudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaha: 43-4).
Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemahuan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebuah rahasia bahawa Dia akan menjadikan perbuatan orang-orang beriman itu akan menghasilkan manfaat dan akan mengubah musuhmusuh menjadi teman jika mereka menaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.
http://sayamuslimah.blogspot.com/
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat: 34-5).
“Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. an-Nahl: 125).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baiknya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi "teman yang setia". Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manusia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan fikiran siapa saja yang Dia kehendaki. Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar mendatangi Fir'aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir'aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerintahkan rasul-Nya agar berbincang kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur'an:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbincanglah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudahmudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaha: 43-4).
Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemahuan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebuah rahasia bahawa Dia akan menjadikan perbuatan orang-orang beriman itu akan menghasilkan manfaat dan akan mengubah musuhmusuh menjadi teman jika mereka menaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.
http://sayamuslimah.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)
